SAMPIT – Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim) mencatat, tingkat inflasi pada Oktober 2025 berada di angka 2,97 persen. Angka tersebut dinilai masih stabil dan berada dalam batas aman.
Kepala BPS Kotim Eddy Surahman mengatakan, kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang inflasi tertinggi dengan capaian 3,70 persen.
“Pergerakan harga di sektor pangan tetap menjadi perhatian utama. Meski terkendali, dinamika di lapangan perlu terus dipantau,” ujarnya, Sabtu (8/11/2025).
Selain itu, kelompok penyediaan makanan dan minuman atau restoran turut memberi andil besar terhadap laju inflasi, yakni 5,07 persen. Eddy menilai, aktivitas masyarakat yang kembali meningkat ikut mendorong naiknya perputaran ekonomi di sektor tersebut.
“Secara umum, kondisi ekonomi daerah masih cukup baik. Inflasi yang terjadi bukan karena gejolak besar, melainkan akibat aktivitas konsumsi yang mulai pulih,” jelasnya.
Di sisi lain, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya mengalami perubahan paling menonjol, mencapai 11,95 persen. Sementara kelompok pengeluaran lain yang juga menunjukkan pergerakan adalah perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 1,12 persen, transportasi sebesar 0,47 persen, kesehatan sebesar 1,67 persen, rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 2,47 persen, pendidikan sebesar 0,83 persen, pakaian dan alas kaki sebesar 0,60 persen, serta perlengkapan rumah tangga sebesar 0,10 persen.
Adapun kelompok informasi, komunikasi, dan jasa keuangan tercatat mengalami penurunan tipis sebesar -0,08 persen, namun tidak berpengaruh signifikan terhadap pengeluaran masyarakat. Eddy menegaskan, inflasi di Kotim masih tergolong aman sepanjang stok bahan pokok dan distribusi logistik tetap lancar.
“Menjelang akhir tahun, perlu diantisipasi faktor cuaca yang bisa memengaruhi pasokan. Karena itu, koordinasi antarinstansi harus diperkuat,” katanya.
Ia juga mengimbau Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) agar memperkuat langkah-langkah pengendalian dengan menjaga kelancaran pasokan dan memastikan ketersediaan kebutuhan masyarakat di pasar.
“Langkah cepat dan kolaboratif menjadi kunci menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat,” pungkasnya.(mth)
