SAMPIT — Anggota DPRD Kotawaringin Timur (Kotim) dari Daerah Pemilihan (Dapil) 3, Eddy Mashamy, kembali menyoroti lambatnya realisasi perluasan jaringan listrik di Kecamatan Pulau Hanaut, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim). Ia menilai janji yang disampaikan PLN sejak 2018 hingga kini belum menunjukkan perkembangan yang memadai.
Dalam rapat bersama manajemen PLN pada Senin (24/11) kemaren. Eddy menegaskan bahwa masyarakat di Pulau Hanaut hingga tadi malam masih mengalami gangguan pasokan listrik. Kondisi tersebut, menurutnya, bertentangan dengan berbagai perencanaan yang sejak lama dijanjikan PLN.
“Di Dapil 3 itu sudah terlalu banyak janji. Dari tahun 2018 sudah manajemen PLN mengadakan perencanaan. Jadi saya pertanyakan perencanaannya macam apa? Sampai tahun 2025 belum bisa terealisasi,” kata Wakil Ketua komisi I itu.
Ia menyatakan memahami persoalan teknis yang dihadapi PLN, namun tetap mempertanyakan konsistensi arah perencanaan pembangunan yang menurutnya tidak sesuai prinsip tahapan yang semestinya.
“Kalau dari 2018 sampai tahun 2025 ini tidak bisa dilaksanakan, itu perencanaan macam apa? Ini menjadi pertanyaan bagi kami sebagai wakil rakyat,” ujarnya.
Eddy mengatakan DPRD Kotim mendesak agar seluruh pernyataan yang disampaikan PLN dalam rapat dicatat secara resmi sebagai rujukan rekomendasi lembaga. Hal ini penting agar masyarakat tidak terus-menerus digantung dengan janji tanpa kepastian.
“Kami minta apa yang disampaikan manajemen PLN dicatat betul-betul. Supaya nanti ada rekomendasi DPRD yang bisa kita pegang bersama,” tegasnya.
Ia juga menyinggung rencana pembangunan jaringan yang akan mengaliri Pulau Lepeh hingga Pulau Hanaut. Eddy mengingatkan PLN agar memberikan timeline yang jelas sehingga masyarakat dapat menerima penjelasan yang transparan.
“Jangan masyarakat dijanjikan terus. Kalau 2025 baru perencanaan, 2026 harus sudah direalisasikan,” ucapnya.
Eddy menyebutkan saat ini masih ada sejumlah desa dan titik di Kotim yang belum teraliri listrik. Rencananya ada 12 akan dialirkan listrik dan diperkirakan rampung pada Maret 2026. Sementara total 25 desa masih belum ada listrik. Ia menilai capaian itu belum cukup untuk memenuhi visi Kotim terang yang dicanangkan daerah.
“168 desa mestinya sudah teraliri listrik semua. Tapi faktanya belum. Belum lagi pelebaran jaringan ke dalam yang belum tersentuh,” ucapnya.
Khusus di Pulau Hanaut, ia menyoroti tiga titik yang hingga kini belum mendapatkan layanan listrik, yakni Handil London, Babaung Darat, dan Gerombol. Jarak jaringan yang cukup jauh sehingga warga terpaksa menyambung listrik secara tidak standar.
Eddy menekankan pentingnya komitmen semua pihak agar persoalan listrik tidak lagi menjadi isu tahunan yang terus berulang. Ia meminta agar PLN memberikan kepastian yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.
“Tidak zaman lagi seperti ini. Kita harus punya komitmen. Masyarakat pun bisa memaklumi kalau ada gangguan, asal ada kejelasan,” pungkasnya. (mth)

